Purchasing itu hanya mencari barang murah?

“Ah, ini staff purchasing bisanya cuma beli barang murah doang.  Nggak mau peduli sama kita user yg make barang ini sehari, gimana repotnya make barang murahan kayak gini”

Komentar umum yg biasa muncul saat user harus menerima kenyataan barang yg dipesan ternyata “tak seindah” yg dibayangkan.  Disatu sisi memang ada beban moril bahwa purchasing harus bisa menyiasati budget dari perusahaan utk pembelian barang atau jasa.

Disisi lain user menuntut barang yg “nyaris sempurna”, walhasil staff purchasing harus mengeluarkan segala daya upaya agar dua kepentingan tadi bertemu di satu titik (some people says: win-win solution), dan untuk itulah orang purchasing dibayar.

Semua harus dimulai dari permintaan barang atau jasa yg jelas dari pihak user. Spesifikasi, detil teknis, batasan ruang/waktu, dsb.. dsb… Makin lengkap informasi awal tsb, maka makin memudahkan purchasing utk melakukan proses sourcing barang/jasa tsb.

Tahapan yg cukup kritis selanjutnya adalah konfirmasi user sebelum purchasing membeli barang tsb.   Jadi, staff purchasing akan kembali kepada user utk memastikan barang yg akan dibeli benar-benar sesuai kebutuhan user.

Sehingga tidak perlu muncul komentar miring spt diatas dari user setelah menerima dan memakai barang pesanannya itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s